Minggu, 20 November 2022

Cerita TIGA KISAH Dan Sebuah Titik Balik



Beberapa orang di media sosial facebook, yang mungkin karena membaca pemikiran serta pendapat-pendapatku yang mereka anggap menyimpang atau berbeda dengan tafsir mayoritas, pernah bertanya padaku;
"Apakah kamu masih sholat?", atau...
"Apakah kamu masih beragama Islam?", atau yang lebih jauh lagi seperti...
"Apakah kamu seorang atheis?", dan pertanyaan-pertanyaan lain yang senada dengan itu, yang tendensinya juga variatif; antara mencibir atau sekedar ingin tahu saja.

Baiklah, melalui tulisanku kali ini aku akan mencoba menceritakan tiga buah kisah hidup _yang menurutku cukup menentukan_ yang bisa dibilang, ketiga buah peristiwa dalam kejadian ini mirip semacam titik balik yang akhirnya mengembalikan aku pada track semula, sebuah titik balik yang berkait langsung terhadap cara pandangku terhadap agama, kebenaran dan bahkan Tuhan, setelah (memang benar) di tahun-tahun sebelumnya aku pernah nyaris menanggalkan sama sekali ke-tiga hal tersebut.

***

Tiga Kisah ini; terutama kupersembahkan untukmu ;
Orang-orang terkasih dalam hidupku.

Kisah pertama, KADAL.

Terjadi sekitar 15 tahun yang lalu di Trenggalek saat aku masih hidup dalam hari-hari tak bertujuan bersama embah.
Ketika itu musim terik, dan seperti hari-hari sebelumnya, bersama paman aku harus berjibaku menggarap sawah embah yang tak pernah menghasilkan panen melimpah; seringkali hanya cukup untuk makan semusim itu saja.

Menjelang tengah hari karena bekal minum yang tinggal tetes terakhir, bersama peluh penat dan lelah serta masih dinaungi oleh pongahnya sinar matahari, kaki-kaki kami yang telanjang berjalan pulang, cepat menyusuri sempit jalan persawahan diantara lahan-lahannya yang penuh dengan garis retakan.

Dalam dahagaku yang seiring langkah, mata ini tiba-tiba tertuju pada sebuah pohon pepaya tak terlalu tinggi sejauh beberapa meter didepan yang tumbuh sendirian _masih di hamparan lahan persawahan tersebut. Ada satu buahnya yang telah masak menguning, yang selanjutnya hanya dengan sebuah lompatan kecil saja, buah pepaya itu telah berpindah ditanganku seiring kami kembali melangkah pulang semakin tergesa. Entah milik siapa. Yang kupercaya, itu pasti Tuhan yang punya.
Tak sampai limabelas menit kemudian, aku telah duduk diterpa angin siang yang panas diemperan belakang rumah embah yang meski telah reot tapi masih jelas mengesankan gaya joglo jawa-nya yang khas, sembari melahap sendok demi sendok daging pepaya segar curianku.


Ilustrasi; kadal

Ketika itu, ada tiga ekor kadal yang berkejaran di pekarangan rumah embah yang kering tandus tersebut. Sepertinya sedang berebut cinta. Kuperhatikan saja mereka sembari pikiranku menerawang tentang kampung halaman, beberapa penggal kenangan tentang kekalahan serta rasa takut kepada suramnya masa depan, semuanya, segera menjelma menjadi lamunan disiang hari bolong itu..

Aku terhenyak. Tiba-tiba seekor kadal telah berada didekatku, berjalan setapak demi setapak semakin berada dihadapan. Entah yang mana dari mereka yang tadi berkejaran. Atau bisa jadi yang lainnya. Kepala mendongak, sedang mulutnya setengah terbuka dengan lidah yang sedikit menjulur, dibarengi gerak otot nafas di leher bawahnya yang tampak kembang kempis seperti celegukan, mungkin kehausan.

Iseng kusodorkan sisa daging pepaya diujung sendokku, yang tanpa kuduga ia merespond dengan melangkah lebih dekat dan menjilat pepaya di sendokku tersebut. Aku tertegun dan kemudian tersenyum, sambil tanpa ragu kembali menyuapi, ia merespond sekali lagi.

Demikian hingga tiga atau empat kali suapan, bergantianlah kami sampai ia melangkah pergi. Aku tertawa lebar meski tanpa suara. Ada kebahagiaan aneh yang menyergap dan mampu membuatku mematung sampai beberapa saat lamanya. Kebahagian yang datang karena berbagi makan dengan seekor hewan yang kata orang cukup menjijikkan.

Tapi entah, aku malah tak merasa jijik lagi dengan hal ini. Persetan ! Mungkin saja semua telah terkalahkan oleh hidupku saat itu yang lebih memuakkan.

*

Kisah kedua, ANJING.

Ini tentu bukanlah kisah yang menyenangkan untuk yang membacanya. Karena ia adalah kisah sejati yang hanya dapat kugambarkan secara terbatas - semaksimal kemampuanku saja. Kenyataannya, peristiwa yang terjadi sesungguhnya lebih mengerikan lagi.

Berlaku sekitar dua atau tiga bulan setelah cerita tentang kadal, tepatnya di Surabaya ketika aku didamparkan oleh fikiran yang gamang mengambang karena nasib buruk yang kupercaya telah tertempel sejak hari kelahiran. Hanya beberapa waktu sebelum aku bertemu Ki Bodo sebagaimana yang telah aku ceritakan dalam tulisan berjudul; "Ritual Agama; Jaminan Kesalehan Sosial?".

Sungguh tak mudah mendapatkan pekerjaan di kota besar, apalagi sama sekali tanpa koneksi. Aku terkatung-katung tanpa arah - tanpa tempat singgah. Hidup selalu penuh dengan rasa was-was dalam sergapan kebingungan, meratapi kenangan buruk yang melintas selalu walau telah jauh tertinggal di kampung halamanku. Ditambah lagi makan sekali dalam sehari semalam, mandi sekali dalam sehari semalam; itupun jika beruntung bertemu Masjid atau mushola yang ramah penjaga. Begitulah yang kualami selama hampir semingguan disini. Dan kesusahanku akhirnya sempurna setelah dua benda pusaka yang kuharapkan bisa menjadi penolong disaat kritis, malah raib digondol maling; Duit sisa tabungan dan SIM A yang kudapat sewaktu di Bali.

Petang itu badanku lemah-lesu bagai tak lagi mempunyai tumpu, entah di hari keberapa walau kufikir masih diminggu yang sama. Dalam lapar dan hantaman keputusasaan setelah berjalan mondar mandir hampir seharian bagai orang gila, ragaku ambruk terduduk diemperan sebuah restoran China yang sudah tidak lagi beroperasi.

Itu kusimpulkan setelah melihat sampah dan kotoran yang berserakan di sekeliling bangunan serta debu kota disemua permukaan benda. Suasananya semakin suram lepas beberapa menit setelah maghrib karena tempatnya hanya diterangi sebuah bohlam 5 watt yang tergantung agak ke dalam. Meski di kota, bangunan ini cukup menyendiri, yang mana lampu-lampu dari bangunan-bangunan yang berdiri beberapa meter disekelilingnya, hanya samar-samar mampu menerangi sekitarku.

Aku berbaring di atas lantai semen kotor yang kusibak seperlunya dengan berbantal ransel butut dari kampung yang masih setia menemani sejak awal perjalanan hingga di waktu yang kelam saat ini. Kecamuk dalam batin terus menerawang sementara mataku yang berkaca penuh air mata, yang entah atas alasan apalagi, terus mencoba padam - terpejam. Dan sungguh, meski ketika itu ragaku dilanda lelah yang maha parah, sekedar tidur saja, bagiku bukanlah hal yang mudah.

Hingga berlalu puluhan menit berikutnya, mata yang menolak lelah ini kembali terbelalak lagi. Ada lenguhan seperti menggeram yang semula samar tiba-tiba menjadi makin jelas seperti semakin mendekat. Dan aku telah akrab sekali dengan suara seperti itu, sejak dikampungku.

Sekuatnya, tubuhku yang telah dikuasai oleh kesengsaraan karena nasib buruk, lapar, lelah dan mengantuk nan sangat, bangkit perlahan dan duduk bersandar di dinding restoran. Dan ketika detik berganti belum genap sepuluh, ragaku kini telah lumpuh, diam terpaku tanpa daya seperti mati, disertai ketakutan luar biasa yang terpancar dari dua mataku yang terbelalak, terpana!

Badan yang tegap, tinggi hampir seukuran domba. Bola-bola matanya yang gelap berkilat menatap tajam bagai pisau yang menghujam jantung. Masih dengan geraman yang menggertak, mulutnya yang setengah terbuka memamerkan setetes air liur, lidah yang menjulur serta sederet gigi dan taring mengerikan dikedua sisi... Lalu seketika, aku yang tak berdaya segera terlempar dipuncak kengerian. Dingin menggigil ketakutan dihadapannya yang kira-kira hanya berjarak setengah meter jauhnya.

Ilustrasi; Anjing penjaga

Dari gerak-gerik serta wujud fisik sosoknya, aku tahu dia ini dari jenis anjing penjaga. Dan penampilannya yang luarbiasa di petang yang suram itu telah mendatangkan teror serta horor tertinggi dalam hidupku. Dalam detik-detik paling kritis tersebut; sebelum ia menerjang dan mencabik-cabik diriku, tak ada lagi yang kuingat selain emak, kenangan tentang cinta yang pahit, dan Dia yang konon selalu memandangi dari kejauhan;

Allah; tolong selamatkanlah hamba...

Hanya demikian yang sanggup kubisikkan sambil semampunya membalas tatapan sang anjing penjaga. Aku merasa telah sirna sampai ketika keajaiban itupun benar-benar nyata setelah semenit berikutnya. Anjing penjaga tiba-tiba melengos pergi tanpa permisi sebelum kemudian lenyap tertelan gelap disamping restoran. Aku menghela nafas berat, berbaring lemas dan tertidur lagi tanpa mimpi. Lelap semalaman tanpa sedikitpun beban ketakutan, mungkin karena _bahkan_ terror yang terbesar-pun telah aku kalahkan. Hingga esoknya sang pagi sekali lagi membangunkanku lewat muram sinar mentari, aku berusaha bersyukur atas hari baru ini, meski mataharinya masih sama seperti matahari kemarin, di Surabaya.

*

Kisah ketiga, BURUNG HANTU.

Burung hantu adalah kisah yang terjadi bertahun-tahun kemudian saat aku telah bersama Isteri dan seorang balita putera pertama dalam keluarga kecilku yang senantiasa tampil sebagai penghibur ; Haqqiy Abadi. Tak banyak yang berubah dari hidupku; aku masih saja seorang laki-laki biasa dengan sedikit sekali pencapaian. Dan meski bayangan-bayangan pahit tentang masa muda masih sering melintas menghampiri, secara umum aku merasa hidupku kini telah cukup bahagia dan terberkati.

Seperti biasa layaknya hari-hari sebelumnya, di setiap pagi aku pergi berjalan kaki menuju kebun didekat rumahku untuk melakukan penyadapan. Yah, bagi beberapa orang ini mungkin terdengar keren; tugas penyadapan (macam pegawai-pegawai KPK yang menyadap jaringan komunikasi para koruptor), Ah, tetapi ini bukan tentang itu, ini hanya tentang penyadapan di perkebunan karet yang merupakan sumber penghidupan yang paling kami andalkan.

Sebuah rawa tak terawat dan tidak terlalu luas di dekat kebun yang sejak bertahun lalu telah beralih fungsi menjadi tempat gembala sapi adalah sebuah tempat yang seringkali ku lalui. Tapi pagi ini ada yang berbeda darinya. Sebuah jaring panjang, membentang berkelok sampai dikedua sisi rawa yang membuatku harus berjalan melipir dari jalan biasa. Jaring itu, kemudian aku tahu adalah jaring perangkap burung milik seorang tetangga jauhku, saat itu kami belum saling mengenal akrab, namun yang kutahu, beliau adalah seorang sarjana agama yang berprofesi sebagai guru honorer dan salah seorang pengkhotbah (khatib) di Masjid tempat kami shalat jum'at.

Maka mulailah. Sejak hari itu hingga hampir seminggu kemudian di setiap pulang dari melakukan penyadapan, yang kira-kira satu setengah jam sebelum dzuhur, mataku selalu disuguhi oleh pemandangan burung-burung tekukur yang terjerat bergelantungan. Satu-dua hari hal ini tak terlalu mengusikku, namun memasuki hari ketiga aku mulai tak nyaman oleh sebab tetangga jauhku yang memasang perangkap burung tersebut hanya menengok jeratannya disore hari saja. Akibatnya banyak burung tekukur yang terjerat; kelenger/sekarat bahkan ada beberapa diantaranya yang sampai mati lemas.

Ilustrasi burung tekukur yang lagi apes

Nuraniku sungguh terusik, ini penyiksaan namanya. Dalam hatiku menggerutu, kenapa orang yang katanya paham agama kok malah minim sekali dengan kasih dan empati? Aku ingin menegur tapi belum menemukan cara yang tepat. Aku takut akan terjadi kesalahpahaman jika kukatakan bahwa ketidak setujuanku yang sebenarnya adalah (hanya) karena mengasihani burung.... Yang kutahu, bagi kebanyakan orang, ini alasan yang sepele sekali, selainnya juga karena tetanggaku ini seorang dari suku yang berbeda yang saat itu aku belum begitu mengenalnya.
Hingga tibalah harinya, saat aku pulang lebih awal kira-kira masih sekitar jam sepuluh pagi. Seperti biasa aku melihat beberapa burung tekukur yang terjerat dibeberapa titik. Namun disana, ada hal lain yang begitu menarik perhatianku ketika itu; yakni sepasang burung hantu yang terjerat hampir berdempetan.

Burung hantu; salah satu spesies yang konon paling setia kepada pasangannya. Semoga kita bisa berperilaku seperti hewan ini 😉

Kudekati dan lekat memperhatikannya. Burung yang katanya menakutkan ini nyatanya cukup indah juga, terlebih dibagian bola-bola matanya yang bundar; jernih bening menatapku seperti diselimuti airmata. Aku terhening dan seketika berpikir aneh sembari bersimpuh didekat mereka. Berbeda dengan burung tekukur yang populasinya cukup banyak, burung hantu ini adalah burung yang terbilang langka karena memang tak mudah untuk dijumpai. Lebih jauh lagi bagaimana seandainya mereka ini adalah pasangan suami-isteri dari sebuah keluarga yang sedang keluar untuk mencarikan nafkah makan untuk anak-anaknya? Sependek tahuku burung hantu adalah spesies penganut monogami. Artinya mereka adalah jenis hewan paling setia yang hanya memiliki satu pasangan seumur hidup. Bukankah sungguh tragis sekali jika anak-anaknya harus terus menunggu dengan lapar tanpa pernah tahu bahwa orangtuanya mati tergantung disini...

Maka aku, tanpa ragu lagi segera berusaha melepaskan mereka. Tetapi ini ternyata lebih rumit dari dugaanku karena benang jaring sudah ruwet sekali. Aku yang gagal mengurainya segera mengeluarkan pisau dan memotongi benang-benang jaring disekitar kaki si burung hantu. Beberapa detik kemudian burung-burung hantu telah berdiri didekatku bersama kebebasannya.

Sesaat kami saling bertatapan dan sepasang bola mata mereka itu kini seperti berputar dan makin jernih berbinar memandangku dengan begitu indahnya. Iseng coba kusuruh mereka pergi seperti saat mengusir ayam, dan keduanya hanya melompat beranjak sekira satu langkah saja, sebelum kemudian kembali berbalik dan menatapku. Aku tak mampu menahan senyum karena mengira burung-burung hantu itu mungkin sedang menyampaikan terima kasihnya padaku. Entahlah...

Ada kelegaan serta kegembiraan yang segera membuncah memenuhi hatiku, membuat sekujur badan serasa tak lagi ber-beban. Luabiasa... kebahagiaan yang sedemikian tinggi yang akhirnya mengiringi kepergian mereka. Hari itu aku begitu bangga karena merasa seperti baru saja menyelamatkan seisi dunia.

*

Esoknya, jaring penjerat burung itu telah digulung dan sekira seminggu sesudahnya tanpa sengaja aku bertemu dengan si empunya di sebuah warung, dan kamipun terlibat dalam obrolan basabasi biasa hingga beberapa lama sampai ia tak luput membahas tentang jaringnya, karena mungkin dia tahu bahwa itu sawahku, atau barangkali dia tahu bahwa aku tahu kalau dia yang memasang jeratan itu.

"Kalau mau maling seharusnya di maling saja burungnya, jangan sama jaring-jaringnya juga dirusak. Dasar setan !" Demikian omelnya sambil ngeloyor pergi menyudahi obrolan kami tanpa menatapku. Dan aku masih tak tahu apakah dia sedang menuduhku atau hanya sekedar curhat saja karena sebelumnya kami bicara dalam suasana santai dalam tema-tema yang ringan belaka. Yang pasti, aku hanya mengulum senyum mendengar kalimat penutupnya tanpa merasa perlu menanggapi lebih jauh lagi. Dalam hati aku meminta maaf dan menyesalkannya kenapa sampai diusianya yang sedewasa ini, ia sama sekali belum memiliki empati.

***

Lalu apa, bagaimana makna sebenar dari ketiga kisahnya? Dimana korelasi dari ke-tiga kisah tersebut dengan pilihan hidup yang kini kuyakini?

Ketiga kisah yang kualami, bagiku pribadi itu rohani sekali. Peristiwa-peristiwa yang menegaskan padaku bahwa sebagai manusia kita tetap saja makhluk spiritual yang tidak akan pernah mampu sepenuhnya terlepas dari entitas yang bernama Tuhan (Allah, Yhwe, Dewa, Dzat Yang Maha, Energi atau apapun sebutannya), satu yang pasti sesuatu itu sangatlah jauh melebihi diri kita, tak terkira-tak terdefinisikan. 
 
Apabila Agama diibaratkan sebagai wasilah, ia mungkin saja tak sempurna selayaknya jalan yang bisa lurus halus macam jalan tol atau terkadang bergerinjal seperti jalan dipedalaman, tetapi Ber-Tuhan adalah keniscayaan, itu adalah fitrah manusia yang telah tercetak dalam DNA kita dan diwarisi sepanjang generasi. Karena manusia adalah makhluk spiritual yang akan selalu berfikir dan ingin terus memahami tentang mistisisme serta rahasia ke-ghaib-an. Tuhan sendiri; bisa dikatakan sebagai arah tujuan dari wasilah (jalan) yang dikabarkan melalui agama, sebuah solusi, kumpulan dari pengalaman, keraguan dan harapan-harapan, suatu misteri; pertanyaan sekaligus jawaban, juga kekaguman serta wujud rasa syukur yang merupakan satu-satunya entitas yang akan selalu mampu menjadi alasan untuk mengoptimalkan potensi diri kita sebagai manusia, yang pada akhirnya akan menjadi pelabuhan dari menjalani hidup ini.

Sehingganya, meski keyakinanku tentang kesempurnaan dan klaim kebenaran absolut tentang agama telah luntur, seiring keyakinanku yang kini kian tinggi kepada-Nya, dalam banyak hal aku tak lagi mendefinisikan Dia sebagai sesuatu yang sempit lagi; seperti dulu ketika aku mengira Dia akan murka hanya karena aku menghormati bendera dan menggambar makhluk yang bernyawa, atau sesuatu yang akan gembira ketika kita membenci/menyakiti manusia yang berbeda keyakinan dengan meneriakkan namaNya... Hari ini aku menempatkan Tuhan pada kedudukanNya yang sebenar-benarnya. Tuhan mulia yang mengasihi seluruh makhluknya dengan berbagai cara, Tuhan pemilik galaksi-galaksi yang tidak hanya peduli pada sebutir pasir yang bernama Bumi.

Dan Agama; bagaimanakah aku memandangnya?

Bagiku sekarang tak ada lagi yang istimewa dari agama bila ia tidak berguna dan mampu memberikan manfaat bagi kehidupan. Agama selayaknya sains. Jika sains adalah cara yang memudahkan kita mencapai tujuan-tujuan materi duniawi, maka agama adalah wasilah (jalan/media) untuk mendapatkan kedamaian batin serta ketenangan jiwa, sarana mencapai tujuan akhir kita; yakni Tuhan dan Kebaikan. Sains akan berguna bila memang ia bermanfaat, begitu juga dengan agama. Oleh karenanya, ketika dalam beragama aku bertemu situasi yang buntu/bertentangan dengan nuraniku, maka berijtihad dan memaksimalkan akal pikir, bagiku bukan lagi hal yang tabu, tanpa perlu mewakilkan pengambilan keputusan kepada para agamawan yang sejatinya juga sedang mencari kebenaran.

Peristiwa pengeroyokan dan penelanjangan Ade Armando oleh orang-orang yang mengaku shalat dan sedang berpuasa. Bagi orang-orang yang tidak mampu ber-akal budi macam ini, agama menjadi tidak berarti.

Sedang ritual-ritualnya seperti shalat dan puasa, aku akan terus berusaha mendirikan dan menegakkan, karena selain itu sudah menjadi kebiasaan berpuluh tahun, bukankah ini sebuah sarana yang mumpuni untuk melatih diri?. Sejauh tak merugikan yang lain _seperti shalat dengan menutup jalan atau berpuasa tapi mendzolimi pemilik warung makan_ ritual agama hanyalah suatu bentuk pengakuan dan kepatuhan belaka; sebuah pengingat bahwa ada yang lebih hebat dari kita, dan agar kita tidak menjadi makhluk yang tinggi jumawa.

Agama; merupakan salah satu sumber inspirasi untuk melakukan kebaikan

Akan tetapi, penting untuk kujelaskan, bahwa ketika aku menjalankan hal-hal (seperti shalat & puasa) tersebut, itu bukan lagi karena aku menginginkan imbalan berpuluh bidadari atau karena takut akan dipanggang dalam api abadi-Nya. Sejatinya, hal-hal macam itu telah lenyap dari fikiranku. Aku melakukannya sekali lagi hanya sebagai bentuk pengakuan saja bahwa aku memang butuh sarana untuk mencapai kasihNya dan terutama untuk membuat emak berbahagia.

"Sampeyan sehat dan masih Sholat kan Le??".
Inilah satu pertanyaan yang selalu ditanyakan emak disetiap kali kami berkomunikasi dulu, saat aku masih merantau. Satu kalimat pertama dan utama. Aku berharap, jika Tuhan tidak memandang aku karena kusyu'nya shalatku, semoga Dia mengasihi aku karena dengan shalat yang kudirikan aku telah menciptakan kebahagiaan dalam hati emak.

Terimakasih Tuhan, Engkau telah mengizinkan aku untuk melihat dan kembali mempercayai-Mu. Meski hanya melalui seekor kadal, anjing dan burung hantu.
 
Pembahasan terkait;

RITUAL AGAMA, Jaminan Kesalehan Sosial?

Mendengarkan khotbah shalat jum'at dimasa kopat-kapit

 [inspired by true event]

    Ada anggapan kuat dalam masyarakat agama (terutama mereka yang hidup di daerah pedesaan), bahwa orang yang tidak mau atau enggan menjalankan kegiatan-ritual keagamaan adalah orang yang tidak baik atau kurang baik. Salah satunya adalah kepada seorang yang tidak pernah shalat jum'at_ misalnya.


Ya, suka atau tidak, nyatanya memang hanya sesederhana itulah ukuran yang tertanam menjadi pola pikir mayoritas umat beragama. Tak peduli meski orang yang didakwa tersebut sejatinya selama hidup minim sekali membuat orang lain merugi.
 
Aku mengerti, tatkala kita telah berkomitmen kepada satu hal _entah itu perkawinan, negara, atau pun agama, memang seharusnyalah kita mengacu kepada aturan yang telah terpaku disitu. Akan tetapi jangan pula lupa, pada tataran real, tak jarang kita harus rela _atau terkadang dengan terpaksa_ mesti berimprovisasi dalam mensiasati/menghadapi kenyataan.
 
Sebagai contoh adalah ketika seorang yang taat beragama pada akhirnya harus rela melepas beberapa tuntutan agamanya ketika ia hidup disebuah negara sekular dengan persaingan hidup yang keras.
Mengukur pribadi seseorang hanya melalui satu sisi yakni dari bagaimana dia menjalankan ritual ibadah saja adalah kurang lengkap karena pada kenyataanya hal itu tak selalu korelatif. Tidak empirik.
Begitu setidaknya yang kupahami oleh sebab itulah yang ku buktikan melalui salah satu plot perjalanan dihidupku... Dahulu, [saat aku masih baik menurut anggapan kebanyakan].

***

Surabaya, Juli 2005.
Ketika itu zaman susah, aku terdampar di terminal Purabaya (Bungurasih) setelah uang bekal yang kukumpulkan (sisa dari yang sempat kukirimkan kepada emak sebelumnya) yakni dari setahun kerja di Bali, tujuh bulan di Banyuwangi dan empat bulan di Trenggalek lenyap digondol *copet.
Tinggal 50ribu rupiah yang selamat karena kuselipkan didalam celana dalam.
Aku yang waktu itu karna satu-dua hal memang masih enggan pulang kampung, akhirnya kesampaian juga hidup luntang-lantung.
 
Malam pertama tidur di emperan masjid dalam area terminal, namun beberapa saat lepas tengah malam, aku & puluhan orang lainnya diusir oleh marbot, alasannya mengotori dan sering terjadi kasus kemalingan.
Semua sisi emperan digenangi air agar para gelandangan sepertiku tidak balik lagi.
Tidur malam itu berlanjut dikursi ruang tunggu penumpang.
 
Malam berikutnya aku berniat pindah menginap di Masjid lain yang berpagar memutar. Sekira 500 m dari area terminal.
Ba'da shalat magrib _setelah jamaah lainnya bubar, aku mendekati Pak imam masjid yang telah selesai dari dzikirnya yang lama. Wajahnya cerah dengan dua tanda hitam di dahi. Beliau tak bergamis hanya memakai stelan official seperti baju pak penghulu di kampungku.
Kutaksir usianya disekitar 50-55 tahun.
"Assalamu'alaikum pak,".
Sapaku yang segera dijawabnya dengan suara datar, ekspresinya dingin saat mendengar aku melanjutkan kalimatku.

"Begini pak, langsung saja, saya ini sedang kesusahan. Kalau boleh saya mohon ijin menginap disini untuk malam ini saja, saya akan tidur di emperan".

Pak imam tak menyahut, ia masih diam memperhatikanku lekat.
"Ini silahkan diperiksa & disimpan kartu ID saya". Kataku lagi sambil menyerahkan KTP dan SIM C kepada beliau yang segera diamatinya.

Aku, sembari menunggu jawaban beliau, menyapukan pandangan ke sekeliling masjid, pada mimbarnya yang gagah, pada kaligrafi-kaligrafinya yang indah, juga pada sebuah papan input-output dana kas masjid yang pada saldonya tertera jumlah sekira 40 juta.
Menit berlalu, aku kembalikan pandangan k
epada pak imam yang ternyata juga sedang memandangiku.
"Sudahlah dek," Katanya kemudian dengan suara berat. Aku melongo.
"Sampeyan cari tempat lain saja. Uang saldo itu tidak ada disini, yang bawa juga bukan saya kok,".
Gludak!
Pelan kalimatnya, tapi serasa menghantam telak jiwaragaku. Betapa aku sangat terhina, geram & bahkan sampai ingin menangis saking tak tahan dengan tuduhannya.
Segera, kuambil kartu
-kartu identitasku lalu akupun pergi tanpa permisi.

Namun syahdan... Karena masih belum ingin pulang maka kuputuskan untuk bertahan di kota pahlawan dengan bekerja serabutan apa saja hanya demi seporsi nasi. Bekerja disebuah rumah makan sederhana, membantu juru ketik di polsek, nguli dan bahkan sampai ikut nimbrung menjadi "sukarelawan" dengan para petugas kebersihan di stasiun Waru, yang kesemuanya itu, murni kujalani tanpa gaji. 


Stasiun Waru, Sidoarjo. Gambar dari Google; tak banyak yang berubah sejak aku menggelandang disana sekitar 15 tahun yang lalu.

Ini berlalu hingga waktu lebih seminggu.


Sampai akhirnya atas bantuan mas Bambang (seorang Satpam yang baru saja di PHK), Aku diterima bekerja sebagai helper truck gandeng di PT. Sumber Karya Abadi (sebuah biro jasa pengiriman logistik Surabaya-Jakarta) dengan gaji seadanya.

 

Terlewatilah sebulan, dan aku mulai bosan.


"Pak, saya mau balik kampung," Kataku pada pak Slamet sopirku, suatu petang saat kami ngetem di area pergudangan dan terminal
PT. Brigestone, Jakarta Pusat.

"Lhah, gak jadi mondok?".
Pak Slamet balik tanya, mengingatkanku pada niatnya beberapa waktu lalu yang ingin menitipkan aku ke pesantren kakaknya di Semarang yang katanya cukup besar.
"Mboten pak, saya kangen emak," Lirih jawabku, macam sedang mengeluh.

Sekedar diketahui, Pak Slamet ini adalah orang Islam yang tidak pernah sholat tapi sangat konsen pada urusan agama orang lain. Diawal kenal, beliau bertanya padaku; "Kamu biasanya sholat enggak?" dan ketika kujawab "ya" maka sejak itu setiap memungkinkan dia seringkali menyempatkan berhenti untuk memberiku waktu sholat disetiap perjalanan kami.
Cerita unik lainnya, adalah beberapa kali ketika beliau & temannya sesama sopir berhenti disebuah tempat pelacuran berkedok rumah makan pinggir jalan di daerah Batang - Jawa Tengah, pak Slamet selalu bilang, "Aku tak nglonte disek le. Ini tidak baik. Kamu disini saja jaga mobil", satu hal yang hingga hari ini selalu mampu m
embuatku terseyum plangaplongo setiap kali mengingatnya.

Pada akhirnya, karena niatku bulat, pak Slamet (teman-temannya biasa memanggil dia "ki bodo") tak lagi membujuk. Disaat perpisahan beliau hanya berkata nanti kalau aku sudah ketemu emak, silahkan kalau mau balik lagi dan mondok di pospes kakaknya di Semarang. Aku tak menjawab banyak, hanya berulang mengucap terima kasih saja. Sebab dalam benak, kepalaku masih diliputi kegalauan yang luarbiasa. Aku memang sangat kangen dengan emak, tapi sebenarnya tetap masih belum yakin juga apakah aku ingin pulang atau tidak.

Pak Slamet memberiku uang saku & gajian sebulan yang kemarin kutitipkan, kemudian ia mengenalkanku pada seorang teman sopirnya yang lain yang juga membawa truk niaga dengan rute Jakarta-Medan.

*

Lubis namanya, ia seorang Batak muslim yang kemudian ku tahu juga tidak sholat.

Magrib telah lepas saat aku selesai membantu helper pak Lubis menata ulang tumpukan ban yang akan dimuat ke Medan dan menutupnya dengan terpal besar yang beratnya gak kira-kira.
Pak Lubis mengajakku makan di sebuah warung didekat terminal yang karna gerah akupun makan di emperan warung.
Dari luar, lirih kudengar obrolan pak Lubis dengan ibu pemilik warung yang akrab.
Itu tentang aku.
_
"Apa ndak takut pak dititipin orang yang belum kenal?" Tanya ibu pemilik warung diakhir obrolan mereka.
"Tidak, "
Pak Lubis menjawab tegas,
sembari kemudian melanjutkan bicaranya…
"Dari gerak-geriknya, dari wajah dan sopan katanya, aku yakin ini anak baik".
Dan Glek
!
Aku berhenti mengunyah. Ada rasa haru yang tiba-tiba menyelinap ke hatiku. Subhanallah, bersyukur pada-MU ya Allah ketika ternyata masih ada manusia yang mempercayai sedikit saja kebaikan pada diri hamba.
Meski sayangnya, itu bukan berasal dari seorang hamba yang taat kepadaMu.

***

*copet; ini adalah orang yang telah ku kenal sejak sebulan sebelumnya saat mampir di Ponorogo, dia awalnya memperkenalkan diri sebagai orang yang ceria, ramah, alim dan menjanjikanku pekerjaan. Meski kemudian tanpa tujuan yang kuketahui, dia hanya membawaku luntang-lantung ke berbagai tempat di Jawa Timur, sampai akhirnya kami berpisah karena dia tiba-tiba "menghilang" di Surabaya. Aku menyebutnya copet. Para pekerja terminal menyebutnya tukang gendam. 😂