![]() |
| Mendengarkan khotbah shalat jum'at dimasa kopat-kapit |
[inspired by true event]
***
"Begini pak, langsung saja, saya ini sedang kesusahan. Kalau boleh saya mohon ijin menginap disini untuk malam ini saja, saya akan tidur di emperan".
Pak imam tak menyahut, ia masih diam memperhatikanku lekat.
"Ini silahkan diperiksa & disimpan kartu ID saya". Kataku lagi
sambil menyerahkan KTP dan SIM C kepada beliau yang segera
diamatinya.
Aku, sembari menunggu jawaban beliau, menyapukan pandangan ke sekeliling masjid,
pada mimbarnya yang gagah, pada kaligrafi-kaligrafinya yang indah, juga pada sebuah papan input-output dana kas masjid
yang pada saldonya tertera jumlah sekira 40 juta.
Menit berlalu, aku kembalikan pandangan kepada
pak imam yang ternyata juga sedang memandangiku.
"Sudahlah dek," Katanya kemudian dengan suara berat. Aku melongo.
"Sampeyan cari tempat lain saja. Uang saldo itu tidak ada disini, yang
bawa juga bukan saya kok,".
Gludak!
Pelan kalimatnya, tapi serasa menghantam telak jiwaragaku. Betapa aku sangat
terhina, geram & bahkan sampai ingin menangis saking tak tahan dengan tuduhannya.
Segera, kuambil kartu-kartu identitasku
lalu akupun pergi tanpa permisi.
Namun syahdan... Karena masih belum ingin pulang maka kuputuskan untuk bertahan di kota pahlawan dengan bekerja serabutan apa saja hanya demi seporsi nasi. Bekerja disebuah rumah makan sederhana, membantu juru ketik di polsek, nguli dan bahkan sampai ikut nimbrung menjadi "sukarelawan" dengan para petugas kebersihan di stasiun Waru, yang kesemuanya itu, murni kujalani tanpa gaji.
![]() |
| Stasiun Waru, Sidoarjo. Gambar dari Google; tak banyak yang berubah sejak aku menggelandang disana sekitar 15 tahun yang lalu. |
Ini berlalu hingga waktu lebih seminggu.
Sampai akhirnya atas bantuan mas Bambang (seorang Satpam yang baru saja di PHK), Aku diterima bekerja sebagai helper truck gandeng di PT. Sumber Karya Abadi (sebuah biro jasa pengiriman logistik Surabaya-Jakarta) dengan gaji seadanya.
Terlewatilah sebulan, dan aku mulai bosan.
"Pak, saya mau balik kampung," Kataku pada pak Slamet sopirku, suatu
petang saat kami ngetem di area pergudangan dan terminal PT.
Brigestone, Jakarta Pusat.
"Lhah, gak jadi mondok?".
Pak Slamet balik tanya, mengingatkanku pada niatnya beberapa waktu lalu yang ingin menitipkan
aku ke pesantren kakaknya di Semarang yang katanya cukup besar.
"Mboten pak, saya kangen emak," Lirih jawabku, macam sedang mengeluh.
Sekedar diketahui, Pak
Slamet ini adalah orang Islam yang tidak pernah sholat tapi sangat konsen pada
urusan agama orang lain. Diawal kenal, beliau bertanya padaku; "Kamu
biasanya sholat enggak?" dan ketika kujawab "ya" maka sejak
itu setiap memungkinkan dia seringkali menyempatkan berhenti untuk memberiku waktu sholat disetiap perjalanan
kami.
Cerita unik lainnya, adalah beberapa kali ketika beliau & temannya sesama
sopir berhenti disebuah tempat pelacuran berkedok rumah makan pinggir jalan di
daerah Batang - Jawa Tengah, pak Slamet selalu bilang, "Aku tak nglonte disek le.
Ini tidak baik. Kamu disini saja jaga mobil", satu hal yang hingga hari ini selalu mampu membuatku terseyum plangaplongo setiap kali mengingatnya.
Pada akhirnya, karena
niatku bulat, pak Slamet (teman-temannya biasa memanggil dia "ki bodo")
tak lagi membujuk. Disaat perpisahan beliau hanya berkata nanti kalau
aku sudah
ketemu emak, silahkan kalau mau balik lagi dan mondok di pospes kakaknya
di
Semarang. Aku tak menjawab banyak, hanya berulang mengucap terima kasih
saja.
Sebab dalam benak, kepalaku masih diliputi kegalauan yang luarbiasa. Aku
memang sangat kangen dengan emak, tapi sebenarnya tetap masih belum
yakin juga apakah aku ingin pulang atau tidak.
Pak Slamet memberiku uang saku & gajian sebulan yang kemarin kutitipkan, kemudian ia mengenalkanku pada seorang teman sopirnya yang lain yang juga membawa truk niaga dengan rute Jakarta-Medan.
*
Magrib telah lepas saat aku selesai membantu helper
pak Lubis menata ulang tumpukan ban yang akan dimuat ke Medan dan menutupnya dengan
terpal besar yang beratnya gak kira-kira.
Pak Lubis mengajakku makan di sebuah warung didekat
terminal yang karna gerah akupun makan di emperan warung.
Dari luar, lirih kudengar obrolan pak Lubis dengan
ibu pemilik warung yang akrab.
Itu tentang aku.
_
"Apa ndak takut pak dititipin orang yang belum
kenal?" Tanya ibu pemilik warung diakhir obrolan mereka.
"Tidak, "
Pak Lubis menjawab tegas, sembari kemudian melanjutkan bicaranya…
"Dari gerak-geriknya, dari wajah dan sopan katanya,
aku yakin ini anak baik".
Dan Glek !
Aku berhenti mengunyah. Ada rasa haru yang tiba-tiba
menyelinap ke hatiku. Subhanallah, bersyukur pada-MU ya Allah ketika
ternyata masih ada manusia yang mempercayai sedikit saja kebaikan pada diri
hamba. Meski sayangnya, itu bukan berasal dari seorang hamba
yang taat kepadaMu.
***



Tidak ada komentar:
Posting Komentar