Benarkah demikian?, Bagaimana? Dan apakah yang disebut dengan Kematian?
Selanjutnya kembali tentang kesetiaan.
Suami-isteri ini, mereka telah hidup berpuluh tahun bersama melewati waktu bahagia dan saat-saat sulit serta sehat/sakit yang silih berganti. Melahirkan putra-putri yang akhirnya hidup sebagai manusia yang layak. Karena sama-sama paham agama, hingga tak terpikir lagi dibenak siapapun untuk meragukan betapa mereka (adalah suami-isteri) yang saling setia dan mencinta.
Tahun-tahun berganti dan sang suami-pun mati dijaman covid, meninggalkan busana kepada sang isteri setia dengan sebutan Janda.
Dari sini, banyak yang mengira sang janda mulia yang tak lagi muda, akan menjaga setia tak sudi menghianati suami hingga nanti ia-pun mati. Banyak yang menduga bahwa dia akan memilih rela menjanda sampai ajal tiba.
Tetapi kenyataan hidup bukan seperti harapan dalam angan-angan.
Belum genap tiga tahun sang suami pergi, datanglah seorang duda rupawan (yang malah belum lima bulan ditinggal mati oleh istrinya) menyampaikan lamaran kepada sang janda.
Tanpa perlu pertimbangan panjang sang janda menerima dengan sebuah syarat; bahwa pernikahan harus digelar setelah acara selamatan seribu hari dari kematian suami; yang mana, moment itu hanya tinggal beberapa hari lagi.
Sang duda tampan tak mengindahkan, dengan alasan takut direbut orang dia mengancam; Kalau mahu hari ini, kalau besok-besok lagi lebih baik tidak jadi.
Dalam tekanan hasrat dan keinginan yang sama, sang janda akhirnya tak mampu bertahan dan pernikahan-pun dilangsungkan; yakni hanya beberapa hari sebelum acara selamatan seribu hari kematian suami.
Sampai disini menjadi jelas sekali, bahwa harta kebersamaan yang telah ditumpuk selama berpuluh-puluh tahun oleh sang isteri dan suami yang telah mati seketika menjadi sirna tak berarti. Kesetiaan yang banyak diagungkan dan dijadikan ukuran oleh banyak orang akhirnya terbang lenyap tak berbekas dihantam badai keinginan serta nafsu akan daging.
Dan di dalam kubur serta dalam pandangan banyak manusia hidup yang pernah dikenalnya; sang suami mengalami hari kematiannya sekali lagi.
Sahabat Nabi; Hudzaifah radhiallahu ‘anhu pernah berkata kepada istrinya :
إِنْ شِئْتِ أَنْ تَكُوْنِي زَوْجَتِي فِي الْجَنَّةِ فَلاَ تَزَوَّجِي بَعْدِي فَإِنَّ الْمَرْأَةَ فِي الْجَنَّةِ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا فِي الدُّنْيَا فَلِذَلِكَ حَرَّمَ اللهُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَنْكِحْنَ بَعْدَهُ لِأَنَّهُنَّ أَزْوَاجَهُ فِي الْجَنَّةِ
“Jika kau ingin menjadi istriku di surga maka janganlah engkau menikah lagi setelah aku meninggal, karena seorang wanita di surga akan menjadi istri bagi suaminya yang terakhir di dunia. Karenanya Allah mengharamkan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menikah lagi setelah meninggalnya Nabi, karena mereka adalah istri-istri Nabi di surga” [As-Shahihah no 1281]
Aku bukan sedang menghakimi seseorang. Aku hanya sedang menyampaikan kenyataan dan sebuah sudut pandang. Pada faktanya setiap kita berhak untuk bahagia dan melanjutkan hidup. Tetapi disini, aku hanya ingin mengingatkan kepada mereka yang terlalu mengglorifikasi kesetiaan dalam sebuah hubungan. Bahkan tidak ada manusia yang memiliki kesetiaan paripurna; baik lelaki dan wanita itu sejatinya sama saja. Tak perlu menyombongkan kesetiaan karena manusia hanyalah seonggok makhluk yang lemah dan rapuh. Sebab setinggi apapun kita memuji nilai sebuah kesetiaan, pada akhirnya kita tetap akan dikalahkan oleh _hanya_ segenggam kebutuhan, keinginan & hasrat !
"Maka ketika kita berbicara tentang kematian, ingatlah selalu tradisinya yang paling mendasar; ditangisi habis-habisan lalu kemudian dilupakan".


