Sabtu, 07 Januari 2023

TENTANG KESETIAAN

Pernah ada sebuah ungkapan yang menyebut bahwa kesetiaan itu sebenarnya baru bisa dibuktikan dengan kematian.
Benarkah demikian?, Bagaimana? Dan apakah yang disebut dengan Kematian?


Kematian menurut istilah umum adalah peristiwa berpisahnya antara roh dengan jasad, yakni berhentinya secara permanent kerja berbagai organ vital serta milyaran sel dalam tubuh suatu makhluk, yang mana, kematian merupakan satu fase terakhir dari hidup yang pasti akan kita lalui. 
Jadi menurut definisi ini, kesetiaan seorang manusia baru bisa dinilai setelah nanti ketika yang dicintai sudah pergi dan tidak dapat dirasakan lagi eksistensinya.

Lalu apakah hanya demikian? Tidak adakah yang istimewa atau lebih bermakna selain dari terma yang sederhana itu? 
Entahlah, 
Yang jelas dari kematian ini, kita akhirnya memang mengenal sebuah tradisi; semacam hukum besi yang bisa jadi tak banyak orang yang berani mengakui; Bahwa mereka yang mati, biasanya akan ditangisi habis-habisan, lalu kemudian dilupakan*. 
 
*Dilupakan dalam makna yang sebenarnya atau dilupakan dalam artian yang hidup tak lagi bersedih karena kehilangan tersebut, lalu seiring waktu ia menjadi rela atas kehilangan itu; mampu melangkah maju dan meletakkan pandangan mata serta hatinya kepada figur baru atau pada beberapa hal lain yang memberikan kebahagiaan.
 
***

Selanjutnya kembali tentang kesetiaan.
Baiklah, kini ijinkanlah aku berghibah.

Alkisah, ada sebuah keluarga di lingkunganku. 
Ini adalah keluarga yang taat beragama, sang suami adalah kiyai yang merupakan imam jamaah manaqib yang ditokohkan, sedang sang isteri juga merupakan seorang yang ahli ibadah, ahli qiraah dan aktif diberbagai pengajian serta kegiatan keagamaan. Anak-anaknya pun juga merupakan orang-orang ahli agama (kiyai/nyai) yang mengajar agama di sebuah Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) yang didirikan secara gotong-royong dengan masyarakat.
Suami-isteri ini, mereka telah hidup berpuluh tahun bersama melewati waktu bahagia dan saat-saat sulit serta sehat/sakit yang silih berganti. Melahirkan putra-putri yang akhirnya hidup sebagai manusia yang layak. Karena sama-sama paham agama, hingga tak terpikir lagi dibenak siapapun untuk meragukan betapa mereka (adalah suami-isteri) yang saling setia dan mencinta.

Tahun-tahun berganti dan sang suami-pun mati dijaman covid, meninggalkan busana kepada sang isteri setia dengan sebutan Janda.

Dari sini, banyak yang mengira sang janda mulia yang tak lagi muda, akan menjaga setia tak sudi menghianati suami hingga nanti ia-pun mati. Banyak yang menduga bahwa dia akan memilih rela menjanda sampai ajal tiba. 

Tetapi kenyataan hidup bukan seperti harapan dalam angan-angan. 

Belum genap tiga tahun sang suami pergi, datanglah seorang duda rupawan (yang malah belum lima bulan ditinggal mati oleh istrinya) menyampaikan lamaran kepada sang janda.
Tanpa perlu pertimbangan panjang sang janda menerima dengan sebuah syarat; bahwa pernikahan harus digelar setelah acara selamatan seribu hari dari kematian suami; yang mana, moment itu hanya tinggal beberapa hari lagi.

Sang duda tampan tak mengindahkan, dengan alasan takut direbut orang dia mengancam; Kalau mahu hari ini, kalau besok-besok lagi lebih baik tidak jadi.
Dalam tekanan hasrat dan keinginan yang sama, sang janda akhirnya tak mampu bertahan dan pernikahan-pun dilangsungkan; yakni hanya beberapa hari sebelum acara selamatan seribu hari kematian suami.

Sampai disini menjadi jelas sekali, bahwa harta kebersamaan yang telah ditumpuk selama berpuluh-puluh tahun oleh sang isteri dan suami yang telah mati seketika menjadi sirna tak berarti. Kesetiaan yang banyak diagungkan dan dijadikan ukuran oleh banyak orang akhirnya terbang lenyap tak berbekas dihantam badai keinginan serta nafsu akan daging.

Dan di dalam kubur serta dalam pandangan banyak manusia hidup yang pernah dikenalnya; sang suami mengalami hari kematiannya sekali lagi.
 
***

 أَيُّمَا امْرَأَةٍ تُوُفِّيَ عَنْهَا زَوْجُهَا فَتَزَوَّجَتْ بَعْدَهُ فَهِيَ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا

“Wanita manapun yang ditinggal mati suaminya, kemudian si wanita menikah lagi, maka dia menjadi istri bagi suaminya yang terakhir.” [HR. Ath-Thabarani, lihat Ash-Shahihah 3/275]

Sahabat Nabi; Hudzaifah radhiallahu ‘anhu pernah berkata kepada istrinya :

إِنْ شِئْتِ أَنْ تَكُوْنِي زَوْجَتِي فِي الْجَنَّةِ فَلاَ تَزَوَّجِي بَعْدِي فَإِنَّ الْمَرْأَةَ فِي الْجَنَّةِ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا فِي الدُّنْيَا فَلِذَلِكَ حَرَّمَ اللهُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَنْكِحْنَ بَعْدَهُ لِأَنَّهُنَّ أَزْوَاجَهُ فِي الْجَنَّةِ

“Jika kau ingin menjadi istriku di surga maka janganlah engkau menikah lagi setelah aku meninggal, karena seorang wanita di surga akan menjadi istri bagi suaminya yang terakhir di dunia. Karenanya Allah mengharamkan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menikah lagi setelah meninggalnya Nabi, karena mereka adalah istri-istri Nabi di surga” [As-Shahihah no 1281]

***

Aku bukan sedang menghakimi seseorang. Aku hanya sedang menyampaikan kenyataan dan sebuah sudut pandang. Pada faktanya setiap kita berhak untuk bahagia dan melanjutkan hidup. Tetapi disini, aku hanya ingin mengingatkan kepada mereka yang terlalu mengglorifikasi kesetiaan dalam sebuah hubungan. Bahkan tidak ada manusia yang memiliki kesetiaan paripurna; baik lelaki dan wanita itu sejatinya sama saja. Tak perlu menyombongkan kesetiaan karena manusia hanyalah seonggok makhluk yang lemah dan rapuh. Sebab setinggi apapun kita memuji nilai sebuah kesetiaan, pada akhirnya kita tetap akan dikalahkan oleh _hanya_ segenggam kebutuhan, keinginan & hasrat !


Sebab hanyalah mati, yang akan menjadi penguji tertinggi dari kesetiaan sejati. Sayangnya, fakta Bumi menjadi saksi, bahwa tak banyak yang menang atas ujian demikian.

"Maka ketika kita berbicara tentang kematian, ingatlah selalu tradisinya yang paling mendasar; ditangisi habis-habisan lalu kemudian dilupakan".
***

Aku mencintaimu sayangku. 
Berusaha dengan segenap daya dan upayaku. 
Bersama kesetiaan manusiawi serta seluruh kekurangan yang kumiliki.
Aku tak mampu memberikan yang berlebihan padamu tentang perasaanku, 
sebagaimana aku tak pernah menuntut yang berlebihan darimu tentang perasaanmu.
 
Cukuplah kita nikmati saja yang ada dan mari bersama merayakan hidup ini.